Jangan membuat keputusan saat sedang marah

Pernahkah anda membuat keputusan disaat anda sedang marah? Apakah keputusan anda saat itu adalah benar jika ditinjau saat ini dan memberikan keuntungan pada anda? Atau apakah anda menyesali keputusan yang anda buat dalam keadaan marah tersebut? Cobalah untuk jujur kepada diri sendiri. Hampir seluruh orang yang membuat keputusan karena dilandasi kemarahan akan menyesal di kemudian hari. Ini bukan mitos, ini bukan karangan. Cobalah anda telisik kembali kedalam kehidupan anda atau orang yang anda kenal pernah mengambil keputusan di kala keadaannya marah.

Suatu ketika, seorang pria menghadapi masalah dengan kekasihnya. Ia tidak tahan dengan peringai dan sikap kekasihnya, ia marah dan membuat satu keputusan yang sebenarnya tidak perlu untuk dilakukan. Dalam keadaan marah dan tertekan, ia mengatakan kepada kekasihnya bahwa ia meminta hubungannya putus saat itu juga. Benar, tadinya ia selalu menimbang untung rugi, tapi karena marah, ia tak berpikir lagi. Untunglah saat itu ia tidak segera mengucapkan hal tersebut dikarenakan kekasihnya telah lebih dahulu pergi. Ia lantas berpikir kembali tentang apa yang menjadi penyebab pertengkaran mereka. Dan setelah ia berpikir dengan tenang, barulah ia mengerti apa yang sebenarnya terjadi dan tidak jadi meminta putus.

Dalam situasi seperti ini, pria itu bernasib baik karena belum sempat mengutarakan kata yang tidak seharusnya ia katakan karena emosi. Setelah beristirahat dan berpikir sejenak, ia lantas sadar dan dari sudut hati yang terdalam ia masih sayang dan cinta kepada kekasihnya itu. Maka ia membatalkan kemarahannya dan segera mencari kekasihnya untuk meminta maaf. Ini hanya salah satu contoh dari sekian banyak kesalahan yang terjadi akibat kemarahan.Lebih banyak lagi hal yang fatal terjadi di sekitar kita karena kemarahan. Ada anak yang membunuh bapaknya karena marah, ada orang saling menyakiti karena marah, dan lain sebagainya. Semuanya pasti akan disesali saat nanti mereka sadar dan tidak marah lagi.

Namun, keputusan di kala marah itu ibarat menancapkan paku ke sebuah papan, sekalipun pakunya dicabut maka papannya tetap akan berlubang. Kerusakan yang terjadi karena kemarahan akan tetap ada, sekalipun orangnya sudah meminta maaf, bertaubat dan menyesal, semuanya sudah tidak bisa kembali lagi seperti semula. Seorang kekasih yang diputuskan, belum tentu mau diajak kembali menjalin cinta, meskipun sudah jelas permasalahannya. Seorang bapak yang mati dibunuh karena kemarahan anaknya tidak akan kembali hidup meskipun anaknya menyesal dan menyadari kesalahannya. Untuk itu alangkah lebih baik bagi kita untuk tidak membuat keputusan apapun ketika sedang marah. Sekecil apapun itu kemarahan kita. Istirahatkan otak kita dengan duduk, wudhu atau tidur, baru kemudian kita berpikir lagi tentang solusi masalah kita.

Iklan