Wanita lebih mudah memaafkan pasangannya

Jika kita meneliti kembali perjalanan hidup manusia seringkali diuji dengan berbagai rintangan dan halangan, tidak terkecuali saat menjalin dan mengukuhkan hubungan kasih sayang antara suami dan istri. Ada kalanya pasangan melakukan kesalahan, seperti layaknya menambahkan racun ke dalam minuman, meruntuhkan semua kepercayaan. Namun apakah seseorang bisa memaafkan pasangannya jika sudah begini?

Dalam banyak kasus perceraian yang dimediasi oleh pengadilan agama, lebih dari separuh diantaranya dikarenakan suami yang berselingkuh. Pada umumnya mediasi tersebut bisa diakhiri dengan rujuk karena sang istri memaafkan tindakan suaminya yang berselingkuh, asalkan sang suami mengakui dan menyatakan bahwa dirinya telah melakukan kesalahan. Ini tentu ada kaitannya dengan sikap seorang wanita yang lebih mudah memaafkan suami.
Alasan Mengapa wanita lebih mudah memaafkan

Wanita memiliki naluri untuk mencari perlindungan kepada pria, itulah yang menyebabkan wanita mudah memaafkan pasangannya. Meskipun wanita itu adalah wanita yang mandiri, memiliki penghasilannya sendiri, namun sikap bergantung itu masih tetap ada. Meskipun wanita memiliki kedudukan dan kekayaan, tetap saja sikap menginginkan perlindungan dari suami itu ada. Ini tidak didorong oleh masalah materi dan kasih sayang semata, namun karena faktor luar juga.

Seorang wanita sangat takut dengan adanya pandangan masyarakat terhadap dirinya. Wanita takut akan gelar “janda” yang akan melekat pada dirinya jika ia bercerai dari suaminya. Seperti yang kita ketahui, status janda dipandang negatif oleh masyarakat, meskipun itu sebenarnya sekedar stereotype saja. Itulah kenapa meskipun pria berselingkuh dan menyakitinya secara emosi dan fisik, seorang istri masih bisa bersabar dan mempertahankan perkawinan. Bagi wanita, setidaknya ia masih bersuami dan tidak ada persepsi negatif pada dirinya.

Namun ada juga wanita yang tidak memperdulikan tentang persepsi negatif dari masyarakat terhadap dirinya. Ia sebenarnya bisa dan mampu untuk bercerai dan memilih hidup sendiri, namun faktor lain menjadi pertimbangan pada hal ini, yakni anak-anak mereka yang akan menerima beban psikologis saat kedua orang tua mereka bercerai. Karena pertimbangan itulah akhirnya seorang istri urung untuk mengajukan cerai atau rujuk kembali.

Sedangkan dari kaum lelaki, hanya sepertiga diantara mereka yang mau memaafkan istri yang berselingkuh. Ego yang tinggi yang dimiliki oleh pria menyebabkan ia sulit memaafkan pasangannya. Ditambah lagi jika seorang pria memiliki pandangan bahwa segala kesalahan harus dibalas dengan hukuman yang setimpal. Bahkan ego yang tinggi ini pula yang membuat pria terkadang justru menyalahkan sang istri, padahal dirinya yang berselingkuh. Mereka berpendapat bahwa istrinya tidak bisa memberi kebahagiaan padanya sehingga ia terpaksa mencari wanita lain.

Untuk itu perlu adanya kesadaran dari masing-masing pihak untuk bisa saling memaafkan, yang sudah berlalu ya biarlah berlalu. Yang saat ini hubungannya masih adem ayem saja, jangan bermain-main api dengan berselingkuh. Berselingkuh adalah sebuah pengkhianatan dan berkhianat adalah salah satu dari tiga tanda orang munafik. Anda pasti tahu dimana tempat orang munafik itu, kan? Yep, neraka. Apakah anda mau masuk neraka? Kalau saya sih pastinya tidak.