Buah Keyakinan Allah Sebagai Rabb

Orang yang telah ridha dengan sesuatu maka sesuatu itu akan terasa mudah baginya. Demikian pula seorang mukmin apabila iman telah meresap ke dalam hatinya, segala ketaatan kepada Allah terasa ringan dan dia pun merasa senang melakukannya…

Makna Istilah Rabb

Imam ar-Raghib al-Ashfahani rahimahullah berkata, “Akar kata dari Rabb adalah tarbiyah; yaitu menumbuhkan sesuatu dari satu keadaan kepada keadaan berikutnya secara bertahap hingga mencapai kesempurnaan.” (lihat al-Mufradat fi Gharib al-Qur’an [1/245])

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah berkata, “Rabb artinya adalah yang mentarbiyah seluruh alam; sedangkan alam adalah segala sesuatu selain Allah. Tarbiyah itu berupa penciptaan mereka, berbagai sarana yang Allah sediakan untuk mereka, pemberian nikmat kepada mereka dengan kenikmatan yang sangat agung; seandainya mereka tidak mendapatkannya niscaya mereka tidak mungkin bisa bertahan hidup di alam dunia. Nikmat apapun yang ada pada diri mereka adalah bersumber dari Allah ta’ala.” (lihat Taisir al-Karim ar-Rahman, sebagaimana tercantum dalam al-Majmu’ah al-Kamilah [1/34])

Syaikh Abdullah bin Ibrahim al-Qor’awi berkata, “Secara bahasa Rabb bisa berarti sesembahan, tuan, pemilik/penguasa, sang pengurus segala urusan dan yang memperbaiki hal-hal yang rusak padanya. Kata ini bisa dipakai untuk makna-makna tersebut. Dan itu semua adalah benar jika disandarkan kepada Allah ta’ala.” (lihat Tafsir Surah al-Fatihah, hal. 11)

Syaikh Prof. Dr. Ibrahim ar-Ruhaili hafizhahullah berkata, “Rabb menurut bahasa digunakan untuk tiga makna; sayyid/tuan yang dipatuhi, maalik/pemilik atau penguasa, atau sosok yang melakukan ishlah/perbaikan untuk selainnya.” (lihat transkrip ceramah Syarh Tsalatsat al-Ushul milik beliau)

Ridha Allah Sebagai Rabb dan Faidahnya

Dari al-’Abbas bin Abdul Muthallib radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Akan merasakan lezatnya iman; orang yang ridha Allah sebagai Rabb, Islam sebagai agama, dan Muhammad sebagai rasul.” (HR. Muslim no. 34)

Ridha adalah merasa puas dan cukup dengan sesuatu serta tidak mencari lagi sesuatu yang lain bersamanya. Makna hadits ini adalah; orang tersebut tidak mencari dan berharap kecuali kepada Allah ta’ala semata, tidak mau berusaha kecuali di atas jalan Islam, dan tidak mau menempuh suatu jalan kecuali apabila sesuai dengan syari’at Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Orang yang telah ridha dengan sesuatu maka sesuatu itu akan terasa mudah baginya. Demikian pula seorang mukmin apabila iman telah meresap ke dalam hatinya, segala ketaatan kepada Allah terasa ringan dan dia pun merasa senang melakukannya (lihat Syarh Muslim [2/86] cet. Dar Ibnu al-Haitsam)

Diantara buah perasaan ridha Allah sebagai Rabb adalah sabar menghadapi musibah yang melanda.

Dari Shuhaib radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya semua urusannya adalah baik untuknya. Dan hal itu tidak ada kecuali pada diri seorang mukmin. Apabila dia mendapatkan kesenangan maka dia pun bersyukur, maka hal itu adalah kebaikan untuknya. Apabila dia tertimpa kesulitan maka dia pun bersabar, maka hal itu juga sebuah kebaikan untuknya.” (HR. Muslim no. 2999).

Selain itu, orang yang ridha Allah sebagai Rabb akan merasa tenang dengan pemberian Allah kepadanya, berupa jatah rizki dan kenikmatan dunia; walaupun hanya seadanya. Karena dia mengetahui, kenikmatan dunia bukanlah indikasi kecintaan Allah kepada hamba-Nya.

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Adapun manusia, apabila Rabbnya mengujinya dengan memuliakannya dan memberikan nikmat kepadanya maka dia berkata, “Rabbku telah memuliakanku.” Akan tetapi apabila dia diberi ujian dengan dibatasi rizkinya maka dia berkata, “Rabbku telah menghinakanku.” Sekali-kali bukan demikian…” (QS. al-Fajr: 15-17)

Maksudnya, tidak setiap orang yang diberikan kenikmatan dunia adalah orang yang mulia di sisi Allah. Sebagaimana pula, tidak setiap orang yang dibatasi rizkinya adalah orang yang hina di sisi-Nya. Sebab kekayaan dan kemiskinan, kelapangan dan kesempitan, itu semua adalah cobaan dari Allah untuk menguji hamba-Nya. Siapakah diantara mereka yang menunaikan kewajiban syukur dan sabar sehingga Allah akan membalas mereka dengan balasan yang melimpah. Dan siapakah diantara mereka yang tidak menunaikan kewajiban itu sehingga menyebabkan dirinya berhak mendapatkan siksaan yang amat berat (lihat Taisir al-Karim ar-Rahman, hal. 923-924)

Allah ta’ala juga berfirman (yang artinya), “Dan jika Kami berikan rahmat Kami kepada manusia, kemudian (rahmat itu) Kami cabut kembali, pastilah dia menjadi putus asa dan tidak berterima kasih. Dan jika Kami berikan kebahagiaan kepadanya setelah ditimpa bencana yang menimpanya, niscaya dia akan berkata; ‘Telah hilang bencana itu dariku.’ Sesungguhnya dia (merasa) sangat gembira dan bangga, kecuali orang-orang yang sabar, dan mengerjakan kebajikan, mereka memperoleh ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Hud: 9-11).

Di dalam ayat ini, Allah menceritakan tabiat buruk manusia yang bodoh lagi suka melakukan kezaliman. Tatkala Allah menganugerahkan kepadanya sebagian dari rahmat-Nya berupa kesehatan, rezeki yang melimpah atau anak-anak yang menyenangkan hati kemudian Allah mencabut hal itu darinya, dia bersikap putus asa dan berpangku tangan, tidak mengharapkan pahala dari Allah (atas musibahnya). Tidak terbersit dalam pikirannya bahwa Allah akan mengembalikan sesuatu yang hilang itu kepada dirinya, menggantikannya dengan yang serupa atau yang lebih baik darinya.

Demikian pula, apabila Allah limpahkan kepadanya rahmat/kemudahan setelah dirundung kesulitan maka diapun terlalu gembira dan bangga. Dia mengira keadaan itu akan terus-menerus dialaminya, sampai-sampai dia berkata, “Semua bencana telah luput dariku.” Dia senang dengan suatu nikmat yang cocok dengan hawa nafsunya. Dia merasa angkuh dengan kenikmatan yang diberikan Allah. Itulah yang membuatnya semakin bertambah congkak, sombong, ujub akan diri sendiri dan angkuh kepada orang lain, suka merendahkan dan melecehkan mereka.

Inilah karakter yang melekat pada diri manusia kecuali orang-orang yang diberi taufik oleh Allah untuk bersabar ketika tertimpa musibah -sehingga tidak berputus asa- dan bersyukur ketika mendapatkan nikmat -sehingga dia tidak bersikap angkuh- dan dia konsisten mengerjakan amal-amal salih yang wajib maupun yang sunnah. Mereka itulah yang akan mendapatkan ampunan atas dosa-dosanya dan memperoleh balasan pahala yang sangat besar berupa surga beserta segala macam kenikmatan yang diinginkan manusia (lihat Taisir al-Karim ar-Rahman, hal. 396)

Wallahu a’lam bish shawaab.

Iklan