Liang Kubur Awal Perjalanan Kita di AlamAkhirat

Liang Kubur adalah Awal Perjalanan Kita di
Alam Akhirat yang tak terbatas oleh ruang
dan waktu, alam mahsyar yang dahsyat.
Awal dari Perjalanan Seorang Hamba Menuju
Rabbnya untuk menuju terminal terakhir yaitu
Surga atau Neraka.
Khalifah kaum muslimin yang ketiga Utsman
bin Affan radhiyallahu ’anhu jika melihat
perkuburan beliau menangis mengucurkan air
mata hingga membasahi jenggotnya. Suatu
hari ada seorang yang bertanya : “Tatkala
mengingat surga dan neraka engkau tidak
menangis, mengapa engkau menangis ketika
melihat perkuburan ?”
Utsman pun menjawab, “Sesungguhnya aku
pernah mendengar Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda : “Sesungguhnya
liang kubur adalah awal perjalanan akhirat
.
Jika seseorang selamat dari (siksaan)nya
maka perjalanan selanjutnya akan lebih
mudah. Namun jika ia tidak selamat dari
(siksaan) nya maka (siksaan) selanjutnya
akan lebih kejam.”
(HR. Tirmidzi, beliau
berkata, “hasan gharib”. Syaikh al-Albani
menghasankannya dalam Misykah al-
Mashabih)
Bagaimanakah perjalanan seseorang jika ia
telah masuk di alam kubur ?
Pada postingan Sebelumnya kami telah
menyinggung juga tentang
Alam Kubur ini
dalam penyampaian yang rinci dan untuk
mengetahui perjalanan seseorang jika ia telah
masuk di alam kubur, mari kita simak Hadits
panjang
al-Bara’ bin ‘Azib yang diriwayatkan
oleh Imam Ahmad dan dishahihkan oleh Imam
al-Hakim dan Syaikh al-Albani menceritakan
perjalanan para manusia di alam kuburnya :
Suatu hari kami mengantarkan jenazah salah
seorang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam dari golongan Anshar. Sesampainya di
perkuburan, liang lahad masih digali. Maka
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun
duduk (menanti) dan kami juga duduk terdiam
di sekitarnya seakan-akan di atas kepala
kami ada burung gagak yang hinggap.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
memainkan sepotong dahan di tangannya ke
tanah, lalu beliau mengangkat kepalanya
seraya bersabda, “Mohonlah perlindungan
kepada Allah dari adzab kubur !” Beliau
ulangi perintah ini dua atau tiga kali.
Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda : “Seandainya seorang yang
beriman sudah tidak lagi menginginkan dunia
dan telah mengharapkan akhirat (sakaratul
maut), turunlah dari langit para malaikat yang
bermuka cerah secerah sinar matahari.
Mereka membawa kain kafan dan wewangian
dari surga lalu duduk di sekeliling mukmin
tersebut sejauh mata memandang. Setelah itu
turunlah malaikat pencabut nyawa dan
mengambil posisi di arah kepala mukmin
tersebut.
Malaikat pencabut nyawa itu berkata, ‘Wahai
nyawa yang mulia keluarlah engkau untuk
menjemput ampunan Allah dan keridhaan-
Nya’. Maka nyawa itu (dengan mudahnya)
keluar dari tubuh mukmin tersebut seperti
lancarnya air yang mengalir dari mulut
sebuah kendil. Lalu nyawa tersebut diambil
oleh malaikat pencabut nyawa dan dalam
sekejap mata diserahkan kepada para
malaikat yang berwajah cerah tadi lalu
dibungkus dengan kafan surga dan diberi
wewangian darinya pula. Hingga terciumlah
bau harum seharum wewangian yang paling
harum di muka bumi. Kemudian nyawa yang
telah dikafani itu diangkat ke langit. Setiap
melewati sekelompok malaikat di langit
mereka bertanya, ‘Nyawa siapakah yang
amat mulia itu ?’
‘Ini adalah nyawa fulan bin fulan’, jawab para
malaikat yang mengawalnya dengan
menyebutkan namanya yang terbaik ketika di
dunia.
Sesampainya di langit dunia mereka meminta
izin untuk memasukinya, lalu diizinkan. Maka
seluruh malaikat yang ada di langit itu ikut
mengantarkannya menuju langit berikutnya.
Hingga mereka sampai di langit ketujuh. Di
sanalah Allah berfirman, ‘Tulislah nama
hambaku ini di dalam kitab ‘Iliyyin. Lalu
kembalikanlah ia ke (jasadnya di) bumi,
karena darinyalah Aku ciptakan mereka (para
manusia), dan kepadanyalah Aku akan
kembalikan, serta darinyalah mereka akan Ku
bangkitkan.’
Lalu nyawa tersebut dikembalikan ke
jasadnya di dunia. Lantas datanglah dua
orang malaikat yang memerintahkannya untuk
duduk. Mereka berdua bertanya, ‘Siapakah
rabbmu ?’,
‘Rabbku adalah Allah’ jawabnya.
Mereka berdua kembali bertanya, ‘Apakah
agamamu ?’,
‘Agamaku Islam’ sahutnya.
Mereka berdua bertanya lagi, ‘Siapakah orang
yang telah diutus untuk kalian ?’
“Beliau adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wa sallam” jawabnya.
‘Dari mana engkau tahu ?’ tanya mereka
berdua.
‘Aku membaca Al-Qur’an lalu aku
mengimaninya dan mempercayainya’.
Tiba-tiba terdengarlah suara dari langit yang
menyeru, ‘(Jawaban) hamba-Ku benar ! Maka
hamparkanlah surga baginya, berilah dia
pakaian darinya lalu bukakanlah pintu ke
arahnya’. Maka menghembuslah angin segar
dan harumnya surga (memasuki kuburannya)
lalu kuburannya diluaskan sepanjang mata
memandang. Saat itu datanglah seorang
(pemuda asing) yang amat tampan memakai
pakaian yang sangat indah dan berbau harum
sekali, seraya berkata, ‘Bergembiralah, inilah
hari yang telah dijanjikan dulu bagimu’.
Mukmin tadi bertanya, ‘Siapakah engkau ?
Wajahmu menandakan kebaikan’.
‘Aku adalah amal salehmu’ jawabnya.
Si mukmin tadi pun berkata, ‘Wahai Rabbku
(segerakanlah datangnya) hari kiamat, karena
aku ingin bertemu dengan keluarga dan
hartaku.
Adapun orang kafir, di saat dia dalam
keadaan tidak mengharapkan akhirat dan
masih menginginkan (keindahan) duniawi,
turunlah dari langit malaikat yang bermuka
hitam sambil membawa kain mori kasar. Lalu
mereka duduk di sekelilingnya. Saat itu
turunlah malaikat pencabut nyawa dan duduk
di arah kepalanya seraya berkata, ‘Wahai
nyawa yang hina keluarlah dan jemputlah
kemurkaan dan kemarahan Allah !’.
Maka nyawa orang kafir tadi ‘berlarian’ di
sekujur tubuhnya. Maka malaikat pencabut
nyawa tadi mencabut nyawa tersebut
(dengan paksa), sebagaimana seseorang yang
menarik besi beruji yang menempel di kapas
basah. Begitu nyawa tersebut sudah berada
di tangan malaikat pencabut nyawa, sekejap
mata diambil oleh para malaikat bermuka
hitam yang ada di sekelilingnya, lalu nyawa
tadi segera dibungkus dengan kain mori
kasar.
Tiba-tiba terciumlah bau busuk sebusuk
bangkai yang paling busuk di muka bumi.
Lalu nyawa tadi dibawa ke langit. Setiap
mereka melewati segerombolan malaikat
mereka selalu ditanya, ‘Nyawa siapakah yang
amat hina ini ?’,
‘Ini adalah nyawa fulan bin fulan’ jawab
mereka dengan namanya yang terburuk
ketika di dunia. Sesampainya di langit dunia,
mereka minta izin untuk memasukinya,
namun tidak diizinkan. Rasulullah membaca
firman Allah : “Tidak akan dibukakan bagi
mereka (orang-orang kafir) pintu-pintu langit
dan mereka tidak akan masuk surga, sampai
seandainya unta bisa memasuki lobang jarum
sekalipun.” (QS. Al-A’raf : 40)
Saat itu Allah berfirman, ‘Tulislah namanya di
dalam Sijjin di bawah bumi’, Kemudian nyawa
itu dicampakkan (dengan hina dina).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
membaca firman Allah ta’ala : “Barang siapa
mempersekutukan sesuatu dengan Allah,
maka adalah ia seolah-olah jatuh dari langit
lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan
angin ke tempat yang jauh.”
(QS. Al-Hajj : 31)
.
Kemudian nyawa tadi dikembalikan ke
jasadnya, hingga datanglah dua orang
malaikat yang mendudukannya seraya
bertanya, ‘Siapakah rabbmu ?’,
‘Hah hah… aku tidak tahu’ jawabnya.
Mereka berdua kembali bertanya, ‘Apakah
agamamu ?’ “Hah hah… aku tidak tahu’
sahutnya.
Mereka berdua bertanya lagi, ‘Siapakah orang
yang telah diutus untuk kalian ?’
“Hah hah… aku tidak tahu’ jawabnya.
Saat itu terdengar seruan dari langit, ‘Hamba-
Ku telah berdusta ! Hamparkan neraka
baginya dan bukakan pintu ke arahnya’.
Maka hawa panas dan bau busuk neraka
pun bertiup ke dalam kuburannya. Lalu
kuburannya di ‘press’ (oleh Allah) hingga
tulang belulangnya (pecah dan) menancap
satu sama lainnya. Tiba-tiba datanglah
seorang yang bermuka amat buruk memakai
pakaian kotor dan berbau sangat busuk,
seraya berkata, ‘Aku datang membawa kabar
buruk untukmu, hari ini adalah hari yang
telah dijanjikan bagimu’.
Orang kafir itu seraya bertanya, ‘Siapakah
engkau ? Wajahmu menandakan kesialan !’,
‘Aku adalah dosa-dosamu’ jawabnya.
‘Wahai Rabbku, janganlah engkau datangkan
hari kiamat’ seru orang kafir tadi.
[HR.
Ahmad dalam Al-Musnad (XXX/499-503) dan
dishahihkan oleh al-Hakim dalam Al-Mustadrak
(I/39) dan al-Albani dalam Ahkamul Janaiz hal.
156]
Itulah dua model kehidupan orang yang telah
masuk liang kubur. Jika kita menginginkan
untuk menjadi orang yang dibukakan baginya
pintu ke surga dan diluaskan liang kuburnya
seluas mata memandang maka mari kita
berusaha untuk memperbanyak untuk beramal
saleh di dunia ini. Suatu amalan tidak akan
dianggap saleh hingga memenuhi dua
syarat :
1. Ikhlas
2. Sesuai dengan tuntunan Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Banyak sekali dalil-dalil dari Al-Qur’an
maupun hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi
wa sallam yang merupakan landasan dua
syarat di atas. Di antara dalil syarat pertama
adalah firman Allah ta’ala (artinya) :
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali
supaya menyembah Allah dengan
memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam
agama yang lurus, dan supaya mereka
mendirikan shalat dan menunaikan zakat, dan
yang demikian itulah agama yang lurus.”
(QS.
Al-Bayyinah : 5)
Di antara dalil syarat kedua adalah sabda
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, (artinya) :
“Barang siapa yang melakukan suatu amalan
yang tidak sesuai dengan petunjukku, maka
amalan itu akan ditolak.”
[HR. Muslim dalam
Shahih-nya (III/1344 no 1718)]
Allah menghimpun dua syarat ini dalam
firman-Nya di akhir surat Al-Kahfi (artinya) :
“Barang siapa mengharap perjumpaan dengan
Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan
amal yang saleh dan janganlah ia
mempersekutukan seorang pun dalam
beribadat kepada Tuhannya.” (QS. Al-Kahfi :
110)
Maka mari kita manfaatkan kehidupan dunia
yang hanya sementara ini untuk benar-benar
beramal saleh. Semoga kelak kita
mendapatkan kenikmatan di alam kubur serta
dihindarkan dari siksaan di dalamnya,
Aamiin…!!
Wallahu ta’ala a’lam, wa shallallahu ‘ala
nabiyyyina muhammadin wa‘ala alihi wa
shahbihi ajma’in.
Tulisan ini terinspirasi dari kitab Majalis Al-
Mu’minin Fi Mashalih Ad-Dun-Ya Wa Ad-Din
Bi Ightinam Mawasim Rabb Al-’Alamin, karya
Fu’ad bin Abdul Aziz asy-Syahlub (II/83-86)