Tiga Pesan Syeh Abdul Qodir Jailani r.a.

Pada posting ini saya akan mencoba
menyampaikan Topik yang diangkat adalah
Syeh Abdul Qodir Jailani r.a.
mengenai disampaikan syeh
Abdul Qodir Jailani r.a. kepada murid-
muridnya. Pesan itu sangat singkat tetapi
kaya akan makna bila kita renungi dalam
aplikasi keimanan dalam kehidupan kita.
Beliau menyampaikan tiga hal yang kurang
lebih kalau diterjemahkan artinya sebagai
berikut (mohon maaf arabnya saya lupa)

1. Jadilah kalian seekor binatang buas
terhadap segala perintah Allah SWT
dan RosulNya.

2. Jadilah kalian seperti orang yang sakit
terhadap larangan-larangan Allah SWT
dan RosulNya

3. Jadilah kalian seperti orang yang mati
terhadap taqdir Allah SWT.

Pertama :
mari kita meraba diri kita pribadi,
apakah karakter tersebut telah ada dalam
diri kita. Untuk kriteria pertama, apakah
kita sudah seperti binatang buas yang
sangat lapar terhadap perintah Allah dan
Rasul. Rasa lapar itu tentu saja membuat
kita menjadikan ibadah sebagai makanan
yang akan mengenyangkan rohani kita. Bila
ada panggilan Allah berupa adzan,
bagaimana sikap kita? “Ah, masih jam 12
siang, entar nunggu jam 2 aja.” atau
mungkin menundah sholat isya karena jam
12 malam pun masih bisa sholat isya. Itu
mungkin salah satu parameter yang
mencerminkan sikap kita terhadap perintah
Allah dan Rosul.

Kedua :
apakah sikap kita sudah seperti
orang sakit bila dihadapkan pada larangan
Allah dan Rosul? Kita mungkin sering
terbalik mengaplikasikan dihari-hari kita.
Kalau ada larangan, biasanya sikap kita
tambah seperti binatang buas, tapi kalau
dalam hal ibadah kita tambah seperti orang
sakit. Manusia memang sok pintar. Ambil
contoh, kita dilarang minum alcohol, karena
Dzat yang membuat kita sudah mengetahui
apa yang terbaik bagi makhluk, banyak
kejelekan yang ditimbulkan, tapi realita yang
ada menunjukkan bahwa sebagian manusia
seolah merasa pintar dengan tetap
meminumnya dengan alasan yang mereka
buat sendiri.
Atau mungkin masalah ghibah, membongkar
kejelekan orang lain. Untuk apa? Itu
bagaikan memakan daging saudara kita
yang sudah busuk. Apakah dengan itu kita
akan tampak lebih bagus yang kita
bicarakan. Oleh jadi kesalahan kita, dosa
kita lebih banyak dari pada orang yang kita
bicarakan. Terus kenapa membicarakan
kejelekan orang lain itu seolah MAKANAN
YANG SANGAT LEZAT, kita sering merasa
puas melakukannya. Apa yang kita dapat?
Apa kita senang kalau aib kita dibongkar
orang lain. Jawabannya pasti TIDAK.
Trus kenapa kita melakukan itu ? Kalau tidak
salah AA Gym menyampaikan bahwa bila kita
membicarakan kesalahan orang, maka dosa
kesalahan itu akan langsung berpindah pada
diri kita. Na’udzubiLLAH meen Dzalik.
Semoga Allah menjauhkan kita dari perilaku
yang demikian itu. Penulis juga kadang
merasa heran, kenapa ghibah itu sangat
menyenangkan ? Padahal jelas-jelas sudah
buruk bagi kita.

Ketiga :
kita bisa melihat orang mati. Apapun
yang dilakukan padanya, dia akan selalu
diam dan menerima. Bila kita siram dia
dengan air dingin, maka dia akan diam. Atau
mungkin kita siram dengan air panas, maka
diapun akan tetap diam tanpa melakukan
perlawanan apapun. Kemanapun kita
membawanya, dia akan selalu menurut
kehendak kita. Begitulah mungkin gambaran
seorang muslim terhadap takdir Allah SWT.
Dalam kehidupan ini, kita sering
mendapatkan takdir yang menyenangkan
maupun yang tidak menyenangkan. Satu
saat kita sangat bahagia dengan nikmatNYA,
satu saat yang lain, kita akan sangat sedih
atau menderita karena musibah yang
menimpa kita. Tapi itulah kehendakNYA.

Itulah yang harus kita syukuri, baik itu
nikmat berupa kebahagiaan ataupun
kesusahan semua itu adalah ujian. Banyak
fakta yang membuktikan bahwa manusia
sering lulus ketika di uji dengan kesusahan,
tapi mereka malah lalai ketika di uji dengan
kesenangan hidup. Na’udzubillah.
Allah sudah berfirman bahwa semua ujian
dan cobaan itu telah disesuaikan dengan
kemampuan kita untuk mengatasinya.

Sehingga kita yakin bahwa apapun takdir itu,
susah atau senang, kita suka atau tidak
kita
suka, itu merupakan hal yang paling baik
bagi kita menurut PENCIPTA KITA. Apakah
kita punya landasan yang menyangkal hal
yang menurut pencipta kita itu baik? Allah
juga mengingatkan bahwa kadang suatu hal
itu kita benci, padahal sesuatu itu sangat
baik bagi kita, atau sesuatu itu kita senangi,
tapi nyatanya malah akan membuat
kesengsaraan bagi kita.
Jadi kita hilangkan segala keraguan dan
selalu meyakini bahwa setelah kita berusaha
maksimal, apapun hasil yang kita dapatkan,
suka atau tidak, itulah yang menurut dzat
yang maha Tahu paling bagus bagi diri kita.

Demikian tulisan ini, semoga menambah
keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT.

UMB