Membangun Kepribadian Bangsa BerbudayaBuceng Guyub

DALAM budaya hidup bermasyarakat di tanah
Jawa, masyarakatnya sudah tidak asing dengan yang namanya buceng. Buceng juga dikenal dengan nama tumpeng. Dalam ajaran
Kejawen senantiasa masyarakat Jawa diajari
untuk membaca apa yang ada disekelilingnya.

Misalnya, saat mengadakan acara selamatan dengan tumpeng, apa hikmah yang bisa diambil dari acara itu. Bukan malah mengungkapkan dengan komentar negatif
tanpa bisa mengambil hikmah di balik sebuah peristiwa.
Membaca, ya…membaca itulah kebiasaan yang dilakukan oleh masyarakat Jawa. Hingga muncul kata-kata ‘belajar moco urip’ (belajar
membaca hidup). Hal itu sesuai dengan tuntunan Kanjeng Nabi Muhammad SAW saat menerima wahyu ayat pertama yaitu Iqra.
Dalam ayat tersebut, kata-kata Iqra tadi dibaca hingga 3 kali. Iqra…Iqra…Iqra….
(Bacalah…Bacalah…Bacalah). Pertanyaannya? Apa yang harus dibaca? Mengapa kita wajib
untuk membaca?

Jawabannya, ternyata yang dibaca bukanlah buku yang sudah ada….tetapi ‘buku’ kehidupan ini. Kita wajib untuk membaca karena dengan
membaca maka manusia akan semakin memahami kekuasaan GUSTI ALLAH. Nah, kali ini kita diajari membaca budaya bangsa
lewat selamatan dengan tumpeng. Apa hakekat yang terkandung di dalam sebuah
tumpeng tersebut?
Jika Anda berkunjung ke makam sang Proklamator Bung Karno, maka setelah
memasuki gapura Anda akan melihat di sebelah kanan ada ‘ajaran’ untuk membaca
sebuah tumpeng dan ternyata lewat tumpeng itulah Bung Karno membangun negara
Indonesia ini. Bung Karno yang saat itu ingin
memperkuat negara Indonesia mendapatkan ilham lewat buceng guyub (kesatuan tumpeng) bahwa angkatan laut, darat dan udara harus
bersatu seperti bersatunya buceng guyub agar Indonesia menjadi sebuah negara yang
memiliki angkatan perang yang kuat.

HAMBANGUN KAPRIBADEN BANGSA KANTHI
BUDHAYA BUCENG GUYUB

Oleh: Ki Amang Pramoe Soedirdja

1. Jumbuh kalyan dhawuh para Nabi,para Wali lan para Bentuah,Suhada’ dalah Gurune Kang nyebarake ngelmu Pangerane kang Maha Suci Meling mring para anak
Trusing putu buyut Leluhur mulyane mulya Dudu bandha donya ingkang anganteni
Sowan ngarsa Pangeran.

1. Berhubungan dengan petuah para Nabi,para Wali dan para orang suci,Suhada’dan para gurunya
yang menyebarkan ilmu
Tuhan yang maha Suci
mengingatkan pada para anak terus ke cucu dan cicit
dan para leluhur yang dimulyakan bukan harta dunia yang menanti menghadap pada Tuhan.

2. Pra Leluhur sowan ngarsa Gusti Luwih mulya nalika anulat Uripe anak turunne
Kang tansah guyub rukun
Reruntungan tulus ing ati
Tan ana Cecongkrahan
Serta tindak dudu Tulung – tinulung sapadha Tinebihna saking niat srei drengki
Luputa ing panandhang.

2. Para Leluhur yang menghadap Tuhan Lebih mulia ketika berdoa hidup anak keturunannya agar senantiasa hidup rukun dan bersatu
Bersama-sama tulus dalam hati Tidak ada yang bertengkar Serta berperilaku tidak baik Tolong – menolong sesama Dijauhkan dari niat iri dan dengki Dihindarkan dari cobaan.

3. Buceng Guyub tansah mengku werdi Tanda gegayuhanne wong tuwa
Nggayuh guyub nak turunne
Lelambang wohing tuwuh
Tetuwuhan lumahing Bumi
Ana pala kesempar Uga pala gandul Pala pendhem uga sarta Rinakit wujud bebucengan sayekti Nuwuhke kasantosan

3. Buceng Guyub Selalu memiliki makna Tanda keinginan orang tua Mencapai kerukunan anak keturunannya Sebagai lambang buah yang tumbuh
Tumbuh-tumbuhan yang ada di bumi Ada buah yang muncul di atas tanah Ada buah yang menggantung
Ada buah yang tertimbun tanah juga Dirakit dalam wujud buceng yang sesungguhnya Melahirkan kesentausaan.

4. Ana maneh kudu di sarati
Mawa kurban sato belehan
Kewan darat wujutanne
Tambahan kewan banyu
Beriberan jo nganti kari
Srana ngedohke balak Raharja jinangkung Sumber pitu unjukannya Mundhut saking sumur tangga kanan kering Nggo rakete bebrayan

4. Ada lagi yang harus menjadi syarat Dengan hewan kurban yang disembelih
Wujudnya hewan darat
Ditambah hewan air Hewan yang terbang jangan sampai
ketinggalan Sebagai sarana menjauhkan malapetaka
Dianugerahi keselamatan
Minumannya diambil dari 7 sumber mata air Diambil dari sumur tetangga kiri-kanan
Untuk mempererat hubungan

5. Panyuwunan kanthi muja – muji Marang Gusti muga kasembadan Kepenak urip burine Upama sugih mbrewu
Dennya golek kudu nastiti
Aja mung angger nabrak
lali saru siku Elinga marang piwulang Sapa nandhur bakal ngundhuh tembe mburi
Kuwi lakonne kodrat

5. Permohonan dengan memuja – memuji Kepada Tuhan agar dikabulkan
Tenteram hidup di belakang hari Umpama hidupnya kaya
Hendaknya cara mencarinya harus hati-hati Jangan hanya sekedar menabrak tatanan
Lupa terhadap perilaku yang tidak senonoh Ingatlah pada ajaran Siapa yang menanam bakal memetik di kemudian hari Itu sudah jalannya kodrat

6. Mula tansah paring sembah Gusti Gusti ingkang akarya jagad Awujud bebucenganne
Kang aran buceng guyub
Kang kadamel kanggo mranani Guyube kulawarga
Trusing anak putu Tangga teparo diundang Ndoga bareng saperlu melu ngamini
Guyube kasembadan

6. Maka hendaknya selalu menghaturkan sembah pada Tuhan.
Tuhan yang menciptakan alam semesta Dalam wujud bebucengane Yang disebut buceng guyub Yang dibuat sebagai pertanda Guyubnya keluarga Hingga anak cucu
Tetangga kiri-kanan diundang
Berdoa bersama agar ikut mengamini Guyubnya dikabulkan.