Suami Bakhil bin Kikir?

akan Siapapun tidak suka jika disebut sebagai orang
bakhil atau kikir.

Bahkan ”si mbahnya” bakhil atau yang sudah nyata-nyata bakhil juga akan tersinggung bila disebut orang bakhil atau kikir. Kalaupun ada orang yang menyentil sikapnya yang bakhil,ia akan berujar, “saya bukan kikir, tapi hemat.

Bukan perhitungan kalau mengeluarkan harta, tapi cermat.” 8) Ungkapan bakhil biasanya identik dengan
masalah harta dan kekayaan. Kebanyakan yang berperilaku bakhil adalah mereka yang memiliki harta atau kekayaan.

Adapun orang miskin, bisa dibilang tidak mungkin bersikap
bakhil, karena memang tidak ada yang perlu dibakhilkan.
Secara bahasa, bakhil bisa berarti kikir, pelit.
Menurut al-Jahiz, bakhil pada dasarnya adalah sifat yang disandangkan kepada orang dewasa yang waras alias tidak gila dan memiliki harta.

Anak-anak, orang gila dan orang miskin tidak dapat disebut sebagai orang yang bakhil. Ada ulama yang mendefinisikan bakhil sebagai sifat atau perbuatan seseorang yang tidak mau mengeluarkan atau menyisihkan sebagian harta yang dimilikinya untuk orang lain.

Penulis mendefinisikan bakhil sebagai suatu perbuatan di mana seseorang tidak mau
mengeluarkan atau membelanjakan (menafkahkan) hartanya untuk nafkah yang
bersifat wajib dan atau sunnah.

Yang saya maksudkan dengan nafkah wajib itu adalah;

(1)mencukupi kebutuhan dirinya sendiri dan keluarga baik yang bersifat primer (sandang, pangan, papan, pendidikan dan kesehatan), sekunder maupun tersier (bagi yang mampu),

(2) memenuhi kewajiban agama yang bersifat khusus
seperti zakat, infak, sedekah, qurban, menunaikan ibadah haji dan bentuk-bentuk ibadah yang di dalamnya terdapat nilai biaya untuk menunaikannya.

Tulisan kali ini akan difokuskan pada persoalan sifat bakhil pada seorang suami atau kepala rumah tangga. Dari definisi bakhil
di atas, maka jelas jika seorang suami tidak mau (bukan tidak mampu) menafkahi istrinya, ia pantas menyandang gelar bakhil karena dipandang enggan mengeluarkan nafkah yang
bersifat wajib (karena menafkahi istri hukumnya wajib).

Adapun suami yang tidak
mampu menafkahi istrinya karena satu dan lain hal, ia tidak dikategorikan sebagai suami yang bakhil.

Secara garis besar, nafkah kepada istri terbagi kepada dua bentuk; Nafkah lahir dan
nafkah batin.

Nafkah lahir adalah nafkah dalam bentuk materi seperti yang diulas sedikit di atas,
yaitu pembelanjaan harta untuk memenuhi kebutukan akan sandang, pangan, papan, pendidikan dan kesehatan. Bahkan menurut
imam Hanafi, bagi seorang suami yang memiliki kemampuan secara materi atau katakanlah berkelebihan harta, ia juga diwajibkan memenuhi kebutuhan istrinya yang bersifat tersier seperti membelikan perhiasan, pakaian yang bagus, makanan yang lezat serta buah-buahan (catatan: di jazirah Arab,dahulu buah-buahan termasuk dalam kategori makanan mewah) dan rekreasi.

Adapun bentuk nafkah batin kepada istri di antaranya adalah memberikan kepuasan
secara seksual,menyenangkan hatinya dengan sikap yang baik, menghormati dan
menghargainya serta memberikan ketenangan
secara kejiwaan. Membimbing, mendidik agama dan mensalehkan istri juga termasuk ke dalam bentuk nafkah batin.

Ternyata, kebakhilan suami bukan saja dalam bentuk lahir atau materi. Suami yang mahal senyum, tidak mau bercanda, enggan memanjakan istri, tidak mau mengajari agama dan menyenangkan hati istrinya adalah suami yang bakhil secara batin.

Untuk para istri: Nah, kira-kira suami anda bakhil bin kikir tidak?

Untuk para suami: Kita sudah menafkahi istri kita secara baik atau belum?
kalau belum,jangan-jangan kita termasuk orang yang bergelar S.BK, alias suami bakhil bin kikir.

Sumber : kisahislam