Mencermati Hidayah Pangeran Panggung

Petunjuk GUSTI ALLAH itu datang tanpa memandang siapapun. Entah dia kaya
raya, miskin, tua maupun muda, jika petunjuk dan hidayah itu sudah datang,
tiada satu makhluk pun yang bisa menghalanginya.
Ketika petunjuk dan hidayah itu sudah datang, maka salah satu tandanya yaitu orang tersebut akan mulai menempuh lelaku sesuai petunjuk dan hidayah yang diterimanya.

Demikian pula Pangeran Panggung yang hidup jauh setelah eranya Syekh Siti
Jenar. Namun hidayah yang diterimanya justru membenarkan ajaran dari Syekh Siti Jenar. Pemikiran Pangeran Panggung itu tercetus lewat serat Suluk Malang Sumirang. Apa saja pemikiran dari Pangeran Panggung dalam suluknya?

Menurut Pangeran Panggung,”….Saya mencari ilmu sejati yang berhubungan langsung dengan asal dan tujuan hidup,
dan itu saya pelajari melalui tanajjul tarki.
Menurut saya, untuk mengharapkan hidayah hanyalah bisa didapat dengan
kesejatian ilmu. Demi kesentausaan hati menggapai gejolak jiwa, saya tidak ingin
terjebak dalam syariat.”

“Jika saya terjebak dalam syariat, maka seperti burung sudah bergerak, akan tetapi mendapatkan pikiran yang salah.

Karena perbuatan salah dalam syariat adalah pada kesalah pahaman dalam
memahami larangan. Bagi saya kesejatian ilmu itulah yang seharusnya dicari dan
disesuaikan dengan ilmu kehidupan.

Kebanyakan manusia itu, jika sudah sampai pada janji maka hatinya menjadi
khawatir, wataknya selalu was-was…
senantiasa takut gagal….
Alam di bawah kolong langit, di atas hamparan bumi dan
semua isi di dalamnya hanyalah ciptaan Yang Esa, tidak ada keraguan. Lahir
batin harus bulat, mantap berpegang pada tekad.” (Serat Suluk Malang Sumirang,Pupuh 1-2).

“Yang membuat kita paham akan diri kita, Pertama tahu akan datang ajal,karena itu tahu jalan kemuliaannya,
Kedua, tahu darimana asalnya ada kita ini sesungguhnya, berasal dari tidak ada.

Kehendak-Nya pasti jadi, dan kejadian itu sendiri menjadi misal. Wujud mustahil
pertandanya sebagai cermin yang bersih merata ke seluruh alam. Yang pasti
dzatnya kosong, sekali dan tidak ada lagi. Dan janganlah menyombongkan diri, bersikaplah menerima jika belum berhasil.

Semua itu kehendak Sang Maha Pencipta. Sebagai makhluk ciptaan,manusia didunia ini hanya satu repotnya.Yaitu tidak berwenang berkehendak, dan
hanya pasrah kepada kehendak Allah.”
“Segala yang tercipta terdiri dari jasad dan sukma, serta badan dan nyawa.

Itulah sarana utama, yakni cahaya, roh,dan jasad. Yang tidak tahu dua hal itu akan sangat menyesal. Hanya satu
ilmunya, melampaui Sang Utusan. Namun bagi yang ilmunya masih dangkal akan
mustahil mencapai kebenaran, dan manunggal dengan Allah. Dalam hidup ini, ia tidak bisa mengaku diri sebagai Allah,
Sukma Yang Maha Hidup. Kufur jika menyebut diri sebagai Allah. Kufur juga
jika menyamakan hidupnya dengan Hidup Sang Sukma, karena sukma itu adalah
Allah.”.

”Waktu shalat merupakan pilihan waktu yang sesungguhnya berangkat dari ilmu yang hebat.

Mengertikah Anda, mengapa shalat dzuhur empat raka’at? Itu disebabkan kita manusia diciptakan dengan dua kaki dan dua tangan.
Sedang shalat ‘Ashar empat raka’at juga, adalah kejadian bersatunya dada dengan Telaga al-Kautsar dengan punggung kanan dan kiri.
Shalat Maghrib itu tiga raka’at karena kita memiliki dua lubang hidung dan satu lubang mulut. Adapun shalat
‘Isya’ menjadi empat raka’at karena adanya dua telinga dan dua buah mata.
Adapun shalat Subuh,mengapa dua raka’at adalah perlambang dari kejadian badan dan roh kehidupan. Sedangkan shalat tarawih adalah sunnah muakkad yang
tidak boleh ditinggalkan dua raka’atnya oleh yang melakukan, menjadi
perlambang tumbuhnya alis kanan dan kiri.”

“Adapun waktu yang lima, bahwa masing-masing berbeda-beda yang memilikinya.
Shalat Subuh, yang memiliki adalah Nabi Adam.
Ketika diturunkan dari surga mulia,berpisah dengan istrinya Hawa menjadi sedih karena tidak ada kawan. Lalu ada
wahyu dari tuhan melalui malaikat Jibril yang mengemban perintah Tuhan kepada Nabi Adam, “Terimalah cobaan Tuhan,shalat Subuhlah dua raka’at”. Maka Nabi Adam pun siap melaksanakannya. Ketika
Nabi Adam melaksanakan shalat Subuh pada pagi harinya, ketika salam. Telah
mendapati istrinya berada dibelakangnya,sambil menjawab salam.

Shalat Dzuhur dimaksudkan ketika Kanjeng Nabi Ibrahim
pada zaman kuno mendapatkan cobaan besar, dimasukkan ke dalam api hendak dihukum bakar. Ketika itu Nabi Ibrahim mendapat wahyu ilahi, disuruh untuk
melaksanakan shalat Dzuhur empat raka’at. Nabi Ibrahim melaksanakan shalat, api padam seketika.

Adapun shalat Ashar, dimaksudkan ketika Nabi Yunus sedang naik perahu dimakan ikan besar.
Nabi Yunus merasakan kesusahan ketika berada di dalam perut ikan. Waktu itu
terdapat wahyu Ilahi, Nabi Yunus diperintahkan melaksanakan shalat Ashar
empat raka’at. Nabi Yunus segera melaksanakan, dan ikan itu tidak mematikannya. Malah ikan itu mati, kemudian Nabi Yunus keluar dari perut
ikan.

Sedangkan shalat Maghrib pada zaman kuno yang memulainya adalah Nabi Nuh. Ketika musibah banjir bandang
sejagad, Nabi Nuh bertaubat merasa bersalah. Dia diterima taubatnya disuruh mengerjakan shalat. Kemudian Nabi Nuh melaksanakan shalat Maghrib tiga raka’at,
maka banjir pun surut seketika.

Shalat ‘Isya sesungguhnya Nabi Isa yang memulainya. Ketika kalah perang melawan Raja Harkiyah (Juga disebut
Raja Herodes, atasan Gubernur Pontius Pilatus) semua kaumnya bingung tidak
tahu utara, selatan, barat, timur dan tengah. Nabi Isa merasa susah, dan tidak
lama kemudian datang malaikat Jibril membawa wahyu dengan uluk salam.
Nabi Isa diperintahkan melaksanakan shalat ‘Isya. Nabi Isa menyanggupinya,
dan semua kaumnya mengikutinya, dan malaikat Jibril berkata, “Aku yang
membalaskan kepada Pendeta Balhum.”

“Menurut pemahaman saya, sesuai petunjuk Syekh Siti Jenar dahulu, anasir itu ada empat yang berupa anasir batin dan ansir lahir.
Pertama, anasir Gusti.
Perlu dipahami dengan baik dzat, sifat, asma dan af’al (perbuatan) kedudukannya
dalam rasa. Dzat maksudnya adalah bahwa diri manusia dan apapun yang kemerlap di dunia ini tidak ada yang
memiliki kecuali Tuhan Yang Maha Tinggi, yang besar atau yang kecil adalah milik Allah semua. Ia tidak
memiliki hidupnya sendiri. Hanya Allah yang Hidup, yang Tunggal. Adapun sifat
sesungguhnya segala wujud yang kelihatan yang besar atau kecil, seisi bumi dan langit tidak ada yang memiliki
hanya Allah Tuhan Yang Maha Agung.

Adapun asma sesungguhnya, nama semua ciptaan seluruh isi bumi adalah milik Tuhan Allah Yang Maha Lebih Yang
Maha Memiliki Nama. Sedangkan artinya af’al adalah seluruh gerak dan perbuatan yang kelihatan dari seluruh makhluk isi bumi ini adalah tidak lain dari perbuatan Allah Yang Maha Tinggi, demikian maksud anasir Gusti.”

“Anasir roh, ada empat perinciannya yang berwujud ilmu yang dinamai cahaya
persaksian (nur syuhud). Maksudnya adalah sebagai berikut :
pertama, yang disebut wujud sesungguhnya adalah hidup
sejati atau amnusia sejati seperti pertempuran yang masih perawan itulah yang dimaksud badarullah yang
sebenarnya.

Kedua, yang disebut ilmu
adalah pengetahuan batin yang menjadi nur atau cahaya kehidupan atau roh
idhafi, cahaya terang menyilaukan seperti bintang kejora.

Ketiga, yang dimaksud syuhud adalah kehendak batin kejora.
Ketiga, yang dimaksud syuhud adalah kehendak batin tatkala memusatkan perhatian terutama ketika mengucapkan takbir.

Demikianlah penjelasan
tentang anasir roh,percayalah kepada kecenderungan hati.”

“Anasir manusia maksudnya hendaklah dipahami bahwa manusia itu terdiri dari
bumi, api, angin dan air.
Bumi itu menjadi jasad,
api menjadi cahaya yang bersinar,
angin menjadi napas keluar masuk,
air menjadi darah. Keempatnya bergerak tarik menarik secara ghaib.”