Bagaimana Laku Ngelmu?

Ini merupakan kelanjutan dari Serat Wedhatama karangan dari KGPAA Mangkunegoro IV dari Pupuh III Pucung
yang mengajari manusia Jawa cara untuk Ngelmu.
Disamping itu, dari serat ini kita juga bisa belajar berbagai ‘penyakit’ yang menggerogoti hati kita untuk bisa mendekatkan dari pada GUSTI ALLAH. Di akhir serat, kita juga diajari bagaimana
sikap kawula muda sekarang yang mulai meninggalkan kawruh kejawen mereka.

Serat di Pupuh III ini sangat berguna bagi kawula muda Jawa untuk menyadari jati
dirinya sebagai manusia Jawa. Kata ‘Jawa’ berarti memahami/mengerti.
Memahami/mengerti apa? Tentu saja mengerti/memahami tatakrama, mengerti/ memahami budaya sendiri yang adiluhung, mengerti/memahami sesama
sehingga bisa mencapai ‘Rahayu Sagung Dumadi’ (keselamatan untuk seluruh
makhluk di dunia).
Mari kita simak isi serat tersebut

PUPUH III
P U C U N G

01.,;Ngelmu iku, kalakone kanthi laku, lekase lawan kas, tegese kas nyantosani, setya budya pangkese dur angkara.

(Orang mencari ilmu itu harus melalui lelaku, harus dilakukan dengan sungguh-
sungguh, bisa mendapatkan kesentosaan,
dan menyingkirkan angkara murka.)

02.Angkara gung, neng angga anggung gumulung, gogolonganira triloka, lekere
kongsi, yen den umbar ambabar dadi rubeda.
(Perbuatan angkara murka yang besar, di dalam diri semakin menggunung. Sesuai
dengan golongannya, jangkauannya meliputi alam semesta, bila tidak dikekang akan jadi malapetaka.)
0Beda lamun, kang wus sengsem reh
ngasamun, semune ngaksama, sasamane
bangsa sisip, sarwa sareh saking mardi
marto tama.
(Berbeda dengan orang yang terbiasa dengan kehidupan sunyi. Dari wajahnya
mencerminkan pemberi maaf, kepada
sesamanya yang bersalah. Selalu tenang dan sabar dan bermurah hati.)

04 ,Taman limut, durgameng tyas kang weh limput, kereming karamat, karana
karohaning sih, sihing Sukma ngreda sahardi gengira.

(Sama sekali tak tergoda. oleh rintangan dalam hati yang menimbulkan khilaf.
Karena tenggelam dalam keluruhan budi,

karena anugerah Tuhan. Anugerah yang melimpah sebesar gunung.05
Yeku patut, tinulad-tulad tinurut,
sapituduhira, aja kaya jaman mangkin,
keh pramudha mundhi dhiri lapel makna.
(Seperti itulah yang patut ditiru seluruh petunjuknya Jangan seperti masa
mendatang, banyak kawula muda yang
menyombongkan diri, hanya sekedar tahu ayat saja.)

06
Durung pecus,kesusu kaselak esus, amaknani lapal, kaya sayid weton Mesir,
pendhak-pendhak angendhak gunaning janma.
(Tidak becus, sudah berlagak ingin
menerangkan makna ayat, gayanya seperti sayid dari Mesir. Seringkali meremehkan kepandaian orang lain.)

07.Kang kadyeku, kalebu wong ngaku-aku, akale alangka, elok Jawane denmohi,
paksa ngangkah langkah met kawruh ing Mekah.
(Yang seperti itu, termasuk orang yang mengaku-aku kepandaian orang lain,
kepandaiannya sendiri tak ada. Anehnya
tidak menyadari kebudayaan sendiri,memaksakan kehendaknya mengambil
pengetahuan dari Mekah.)

08
Nora weruh, rosing rasa kang rinuruh,
lumeketing angga, anggere padha
marsudi, kana-kene kaanane nora beda.
(Tidak tahu, bahwa inti ilmu yang dicari,
sebenarnya melekat erat dalam dirinya
sendiri. Asalkan diolah dengan
kesungguhan hati, dimana pun baik di
sana (Mekah ) maupun di sini (Jawa)
keadaannya tidak berbeda.)
09
Uger lugu, den ta mrih pralebdeng kalbu,
yen kabul kabuka, ing drajat kajating
urip, kaya kang wus winahyeng sekar
srinata.
(Bila apa adanya, yang dilakukan dalam
meraih kehendak hati dengan jujur. Jika
terkabul pastilah terbuka, pintu drajat
yang dihajatkan dalam kehidupan. Seperti
yang telah dipaparkan dalam pupuh lagu
Sinom.)
10
Basa ngelmu, mupakate lan panemu,
pasahe lan tapa, yen satriya tanah Jawi,
kuna-kuna kang ginilut triprakara.
(Perihal ngelmu, diselaraskan dengan
pengalaman, mendalaminya dengan
bertapa (olah samadhi), bagi para ksatria
di tanah Jawa. Sejak dulu dilaksanakan
dengan berpegang pada tiga hal penting.)
11
Lila lamun, kelangan nora gegetun, trima
yen kataman, sakserik sameng dumadi,
trilegawa nalangsa srahing Batara.
((ketiga hal itu adalah) Rela, ketika
kehilangan sesuatu tidak merasa
menyesal, (kedua) Sabar bila terkena
prasangka dari sesama insan. Yang
ketiga tulus ikhlas berserah diri pada
Tuhan.)
12
Batara gung, inguger graning jajantung,
jenak Hayang Wisesa, sana paseneten
Suci, nora kaya si mudha mudhar
angkara.
(Tuhan Yang Maha Agung, selalu
ditempatkan di puncak jantungnya
(berzikir). Atas ridho Yang Maha Kuasa,
berkenan bersemayam di tempat yang
suci. Namun tidak demikian dengan anak
muda yang mengumbar angkara.)
13
Nora uwus, kareme anguwus-uwus,
uwose tan ana, mung janjine muring-
muring, kaya buta-buteng betah nganiaya.
(Tidak ada habisnya, sellau mengumbar
hawa nafsu, yang hakekatnya tidak ada,
adanya selalu marah-marah, layaknya
raksasa yang cepat naik pitam dan suka
menganiaya.)
14
Sakeh luput, ing angga tansah linimput,
linimpet ing sabda, narka tan ana udani,
lumuh ala ardane ginawe gada.
(Banyak kesalahan, pada dirinya
disembunyikan dan ditutupi. Menurut
pendapatnya tidak akan ada yang
mengetahui, meskipun demikian tidak mau
disalahkan. Apabila ada yang membuka
sifat jahatnya, amarahnya-lah yang
menjadi senjata.)
15
Durung punjul, ing kawruh kaselak jujul,
kaseselan hawa, cupet kapepetan pamrih,
tangeh nedya anggambuh mring Hyang
Wisesa.
(Belum mencapai tingkat yang lebih dari
orang lain, dalam pengetahuannya sudah
tidak mampu menerima tambahan ilmu.
Karena disela-sela pikirannya telah
dipenuhi hawa nafsu, hingga pikirannya
menjadi pendek tertutup oleh pamri
Maka mustahil jika hendak mendekatkan
diri pada Yang Maha Kuasa.)