Kisah Nabi Sulaiman dan Jin Ifrit

Sejak masih dalam bimbingan
ayahandanya tercinta,Nabi
Sulaiman sadar bahwa ia dikarunia begitu besar nikmat oleh Allah swt.
Nikmat yang jarAng sekali dimiliki oleh orang kebanyakan.
“Segala puji bagi Allah yAng
telah melebihkan kami atas kebanyakan hamba-hambaNya yang beriman yang tidak
diberi ilmu seperti yang diberikan kepada kami.”

Doanya setiap kali.
Ketika Nabi Daud meninggal dunia, hanya Sulaiman di antara putra-putranya yang
mewarisi kenabian dan kerajaan. Namun Sulaiman sama seklai tidak pongah atau takabur. Ia bahkan suatu kali mengundang
pembesar-pembesar dan para cerdik pandai yang ada dalam kerajaannya. Kepada mereka ia berkata bahwa kelebihannya mengerti bahasa binatang merupakan karunia Allah semata.

Namun sebagai seorang Nabi, ia pun tak luput dari ujian. Allah menguji Sulaiman dengan berbagai penyakit yang berat. Jika ia duduk di
atas kursi, tampak seakan-akan ia sebagai jasad yang tak mempunyai ruh. Penyakit ini disebabkan ia terlalu banyak bekerja.

Suatu kali, Nabi Sulaiman kehilangan burung Hudhudnya. Ia memang Sangat dekat dengan binatang itu. “Menagapa aku tidak melihatnya?
Mengapa dia pergi tanpa sepengetahuanku?”

Nabi Sulaiman tampak marah. Ia berniat untuk menghukum Hudhud—mencabut bulunya
ataupun mungkin mengurungnya di dalam
sangkar dan kemudian menyembelihnya. Tapi jika Hudhud membawa alasan tepat yang menerangkan udzur kepergiannya, Sulaiman
akan memaafkannya.

Kepergian Hudhud tidak begitu lama. Selang beberapa saat ia kembali. “Aku ingin
memberitahumu sesuatu yang tidak engkau perhatikan…”

ujar Hudhud kepada Sulaiman.
“Apa itu?”
“Aku telah bertemu dengan seorang wanita. Ia mempunyai singgasana yang agung yang dihiasi dengan intan permata. Tapi ia tidak
beriman kepada Allah. Ia dan rakyatnya bahkan menyembah dan bersujud pada matahari.
Mereka telah disesatkan oleh setan.”

“Siapa dia gerangan?”
tanya Sulaiman penuh ingin tahu.

“Dia Ratu Bilqis.”

Nabi Sulaiman menghela nafas, memandang Hudhud dengan cukup tegas.

“Aku akan membuktikan apa yang kauucapkan. Aku akan
memberikan keputusan kepadamu setelah
bukti-bukti itu jelas.”
Untuk membuktikan kebenaran ucapan Hudhud, Sulaiman kemudian mengirimkan surat
kepada orang yang dimaksud oleh Hudhud. Hudhud sendiri yang menyampaikan surat
Sulaiman itu. Hudhud terbang menuju negeri Saba—kerajaan Ratu Bilqis.

Setelah Bilqis menerima surat itu, dan membaca isinya, ia mengumpulkan pemuka-pemuka kaumnya dan panglima-panglima kerajaannya, “Aku telah menerima sepucuk surat dari Sulaiman.”
Para pengikutnya hanya mendengarkannya.

Ratu Bilqis meneruskan, “Ia mengajak aku dan juga kalian untuk menyembah TuhanNya,Allah swt.
Bagaimana pendapat kalian?”

Para hadirin menjawab,diwakili salah seorang,

“Kita adalah orang-orang yang mempunyai kekuatan dan jumlah besar. Kita benar-benar siap-siap berperang. Tapi kami serahkan semuanya kepadamu. Kami akan taat padamu.”

Bilqis merasa kaumnya cenderung untuk berperang. Namun ia adalah orang cerdik
yang memikirkan akibat perbuatan itu. Ia menjelaskan kepada mereka akibatnya jika terjadi perang, terutama bagi mereka yang kalah.

“Sebagai gantinya aku akan
memberikan hadiah kepadanya. Jika Sulaiman
menerima hadiahku, maka Sulaiman tidak beda dengan raja-raja lainnya. Tapi jika ia
mengembalikannya, maka ia adalah nyata seorang nabi.

Ia mengikuti agamanya…”

Kemudian datanglah utusan Ratu Bilqis menghadap Nabi Sulaiman. Alangkah
terperangahnya utusan-utusan itu ketika melihat kerajaan Sulaiman yang megah.
Dibandingkan dengan kerajaan mereka, sangatlah jauh.

Jawab Sulaiman terhadap mereka, “Aku tidak meminta hadiah kepada Ratumu. Aku
menginginkan dia dan kalian untuk menyembah Allah.

Pulanglah kalian. Katakan
kepada Ratumu, jika dia tidak mau menerima ajakanku, maka kami akan mengusir kalian dari kota Saba sebagai tawanan yang hina,dan akan kami jadikan kalian budak-budak.”

Utusan-utusan itu kembali kepada Ratu Bilqis dan menyampaikan apa yang diucapkan oleh Sulaiman.

Seketika Bilqis menyadari bahwa Sulaiman memang benar dan untuk melawannya, sepertinya ia tidak mempunyai kekuatan untuk melawannya. Ia kemudain
menemui Sulaiman, dengan ditemani oleh para pembesar di negerinya.

Sulaiman telah mengethaui keberangkatan Bilqis. Ia ingin menunjukkan sesuatu kepada
Bilqis. Sesuatu itu adalah mukjizat yang diberikan Allah kepadanya. Maka ia
mengumpulkan jin-jin yang ada di sekelilingnya.
“Siapakah di antara kalian yang sanggup membawa singgasana Bilqis kepadaku sebelum ia bersama kaumnya
datang kepadaku sebagai orang-orang yang beriman?
Supaya mereka melihat kekuatan Allah yang aku serukan untuk mereka sembah?”

Para jin terdiam. Tiba-tiba salah satu di antaranya,
jin Ifrit berkata, “Aku akan
membawanya kepadamu sebelum engkau beranjak dari tempat dudukmu, tempat engkau mengadili dan memerintah.”

Ifrit menambahkan bahwa ia sanggup membawa singgasana Bilqis dengan selamat beserta perhiasannya. Setelah singgasana itu
telah berada di depannya, Sulaiman menyuruh kaumnya untuk mengubah sedikit bentuknya.

Ketika Bilqis datang, Bilqis terhenti sejenak.
Demi melihat singgasananya yang ia simpan begitu ketat dan di tempat paling aman,
seketika Bilqis menjadi yakin terhadap Sulaiman. Ia dan kaumnya kemudian mengikuti
keyakinan Sulaiman—menyembah Allah yang satu.
Sedangkan Sulaiman, ketika ia meminta bantuan kepada Ifrit, ia sama sekali hendak
menunjukkan dan mengajarkan, bahwa jika
manusia sudah takut dan berserah kepada Allah, maka apapun di dunia ini akan takut juga kepada manusia. Apalagi jika hanya terhadap jin dan setan. [berbagai sumber/ islampos]