Saat manusia Meninggal, maka saat itulah diabangun dari tidurnya

Sahabat Ali bin Abi Thalib
radhiyallahu ’anhu pernah
berkata: ”Bilamana manusia
menemui ajalnya, maka saat itulah dia bangun dari tidurnya”.
Sungguh tepat ungkapan beliau ini. Sebab kelak di akhirat nanti manusia akan
menyadari betapa menipunya pengalaman hidupnya sewaktu di dunia. Baik sewaktu di dunia ia menikmati kesenangan maupun
menjalani penderitaan.

Kesenangan dunia sungguh menipu. Penderitaan duniapun menipu.Saat manusia berada di alam akhirat barulah ia akan menyadari betapa sejatinya kehidupan di sana.

Kesenangannya hakiki dan
penderitaannya sejati.
Surga bukanlah khayalan da sekedar dongeng orang-orang tua di masa lalu. Begitu
pula dengan neraka, ia bukan suatu mitos atau sekedar cerita-ceirta orang dahulu kala.
Surga dan neraka adalah perkara hakiki, saudaraku. Sehingga Rasulullah shollallahu
’alaih wa sallam menggambarkan dengan
deskripsi yang sangat kontras dan ekstrim mengenai betapa berbedanya tabiat
pengalaman hidup di dunia yang menipu dengan kehidupan sejati akhirat.

Perhatikanlah
baik-baik hadits di bawah ini:
“Pada hari kiamat didatangkan orang yang paling nikmat hidupnya sewaktu di dunia dari penghuni neraka. Lalu ia dicelupkan ke dalam neraka sejenak.
Kemudian ia ditanya: ”Hai
anak Adam, pernahkah kamu melihat suatu kebaikan, pernahkah kamu merasakan suatu kenikmatan?”
Maka ia menjawab:
”Tidak, demi Allah, ya Rabb.”

Dan didatangkan orang yang
paling menderita sewaktu hidup di dunia dari penghuni surga.
Lalu ia dicelupkan ke dalam
surga sejenak.
Kemudian ditanya: ”Hai anak
Adam, pernahkah kamu melihat suatu kesulitan, pernahkah kamu merasakan suatu kesengsaraan?

Maka ia menjawab:
”Tidak,demi Allah, ya Rabb. Aku tidak pernah merasakan kesulitan apapun dan aku tidak pernah melihat kesengsaraan apapun.” (HR
Muslim 5018)

Mengapa orang pertama ketika Allah tanya menjawab bahwa ia tidak pernah melihat suatu kebaikan serta merasakan suatu kenikmatan, padahal ia adalah orang yang paling nikmat hidupnya sewaktu di dunia dibandingkan segenap manusia lainnya?

Jawabannya:
karena Allah telah paksa dia
merasakan derita sejati neraka –sejenak saja-cukup untuk membuat ingatannya akan segala kenikmatan palsu yang pernah ia alami sewaktu di dunia terhapus begitu saja dari ingatannya.

Sebaliknya, mengapa orang kedua ketika Allah tanya menjawab bahwa ia tidak pernah melihat suatu kesulitan atau merasakan suatu
kesengsaraan, padahal ia orang yang paling susah hidupnya sewaktu di dunia dibandingkan segenap manusia lainnya?

Jawabannya:
karena Allah telah izinkan dia
merasakan kesenangan hakiki surga –sejenak saja- cukup untuk membuat ingatannya akan segala penderitaan palsu yang pernah ia alami
sewaktu di dunia terhapus begitu saja dari ingatannya.

Subhaanallah wa laa haula wa laa quwwata illa billah…!!!

Pantas bila Allah gambarkan bahwa saat sudah dihadapkan dengan azab neraka orang-orang kafir bakal berharap mereka dapat
menebus diri mereka dengan sebanyak apapun yang diperlukan, andai mereka
sanggup. Tentunya pada saat itu mereka tidak sanggup dan tidak berdaya.

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir sekiranya mereka mempunyai apa yang di bumi ini seluruhnya dan mempunyai yang sebanyak itu (pula) untuk menebus diri
mereka dengan itu dari azab hari kiamat,niscaya (tebusan itu) tidak akan diterima dari mereka, dan mereka beroleh azab yang pedih.” (QS Al-Maaidah ayat 36)